PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN - LAJU PERTUMBUHAN POPULASI MAGOT
Nama : Dody Armando
Prodi / Kelas : Teknik dan Manajemen Lingkungan / A1
Matkul : Ekologi Hewan (Praktikum)
Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal
sebagai negara megabiodivesity yang memiliki keanekaragaman hayati yang
luar biasa banyak. Menurut (Siti dan Hamidah) 2015 menyatakan bahwa Indonesia
adalah negara tropis yang beraneka ragam bahan pangan hayati, keanekaragaman
ini menjadikan orang Indonesia dapat mengkonsumsi makanan dan menemukan
beranekaragam bahan pangan dengan mudah, termasuk di dalamnya sayuran dan
buah-buahan.
Bahan pangan yang berasal dari sayuran dan buah buahan ini
akan menghasilkan suatu sisa sisa yang tidak dapat digunakan kembali. Seperti
halnya limbah yang berasal dari sayuran maupun buah buahan tersebut. Limbah
yang dihasilkan tersebut berupa sampah dari sayuran yang tidak dapat digunakan
kembali. Sampah merupakan salah satu persoalan yang tidak pernah kunjung usai.
Hal ini dikarena pada setiap harinya, sampah yang dihasilkan dari setiap
individu akan mengalami peningkat dari hari ke hari. Bisa
dikatakan sampah yang dihasilkan manusia setiap hari tidak terhitung jumlahnya,
baik itu sampah organik maupun anorganik (Sucianti R,Faruq H. 2016). Namun, dibalik persoalan sampah yang tidak kunjung
usai ini ternyata
memiliki manfaat yang baik pada bidang perikanan karena dapat dimanfaatkan
sebagai sumber pakan ikan berupa maggot.
Maggot merupakan larva lalat black soldier atau serangga bunga, memiliki tekstur yang kenyal, dan memiliki kemampuan untuk mengeluarkan enzim alami.Menurut (Azir, et all. 2017) mendefinisikan Maggot merupakan salah satu sumber protein hewani tinggi karena mengandung kisaran protein 30-45%. Maggot atau Belatung sejatinya merupakan larva dari lalat Hermetia illucens atau black soldier yang bermetamorfose menjadi maggot atau belatung yang kemudian menjadi black soldier fly muda (Fatmasari L. 2017). Proses metamorfose yang dilakukan larva lalat ini tidak begitu lama, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari atau dua minggu.
Maggot
mengalami lima tahapan selama siklus hidupnya, Lima stadia tersebut yaitu fase
dewasa, fase telur, fase larva, fase prepupa, dan fase pupa. Diawali selama 2
sampai 3 hari setelah kawin betina akan bertelur. Betina mati setelah bertelur,
jantan mati setelah kawin, lalu telur
BSF akan menetas selama 3-4 hari, kemudian hari pertama ukuran bayi larva
kurang dari 1 mm hampir tidak terlihat, setelah itu beranjak ke larva dewasa,
ditandai usia 18/21 hari warna menjadi putih kecoklatan. Larva dewasa mengalami
tahap
prepura
yaitu dimulai hari ke 18/21 warna sudah
hitam, mulai memanjat dari media mencari
tempat yang kering, 7 hari sampai masuk prepupa, kemudian beranjak pada fase
pupa yaitu sudah tidak bergerak, rata-rata 7 hari1 bulan sampai menetas, lalu
pupa akan menjadi BSF yaitu rata-rata hidup 7 sampai 14 hari.
Pada
pelaksanaan praktikum mengenai pengamatan populasi maggot. Media tempat pengamatan
yang kami gunakan untuk pembuatan magot ini yakni, berupa botol aqua dengan
ukuran 1,5 liter, kemudian dipotong ¼ bagian dari bawah botol. Kemudian pada
bagian botol atas yang memiliki leher diletakkan secara terbalik pada potongan
botol yang telah kita potong. selanjutnya, media yang digunakan untuk
pengamatan maggot ini berupa buah pepaya (Carica papaya) yang sudah terlihat
mulai membusuk. Lokasi pengamatan
yang dilakukan yakni ditempat tertuup dan tanpa cahaya. Hal ini dilakukan untuk
mengamati perkembangan dari magot yang berasal dari buah pepaya.
Hasil Pengamatan yang telah dilakukan untuk percobaan
budidaya magot yang berasal dari buah pepaya dapat dilihat pada tabel 1.1 dan
grafik 1.1 berikut.
Tabel 1.1 Data Perkembangan Magot Selama 14 Hari
|
No |
Hari Ke- |
Lokasi Pengamatan |
Jenis Media |
Jumlah Magot |
Panjang Magot (cm) |
|
1 |
0 |
Gelap |
Pepaya |
0 |
0 |
|
2 |
1 |
Gelap |
Pepaya |
0 |
0 |
|
3 |
2 |
Gelap |
Pepaya |
0 |
0 |
|
4 |
3 |
Gelap |
Pepaya |
0 |
0 |
|
5 |
4 |
Gelap |
Pepaya |
3 |
0,1 |
|
6 |
5 |
Gelap |
Pepaya |
7 |
0,1 |
|
7 |
6 |
Gelap |
Pepaya |
19 |
0,1 |
|
8 |
7 |
Gelap |
Pepaya |
27 |
0,1 |
|
9 |
8 |
Gelap |
Pepaya |
36 |
0,2 |
|
10 |
9 |
Gelap |
Pepaya |
49 |
0,2 |
|
11 |
10 |
Gelap |
Pepaya |
56 |
0.2 |
|
12 |
11 |
Gelap |
Pepaya |
72 |
0,3 |
|
13 |
12 |
Gelap |
Pepaya |
86 |
0,3 |
Berdasarkan tabel 1.1 diatas. Dapat diektahui bahwa
jumlah magot dari hari ke hari mengalami peningkatan dan perubahan panjang. Pada
hari ke-5 jumlah magot mulai terlihat sebanyak 3 ekor dengan ukuran 0,1 dan
pada hari ke-12 Jumlah magot mencapai 85 ekor dengan panjang 0,3 cm. Hal ini dapat dikatakan bahwa perkembangan
dan pertumbuhan magot pada media pepaya
dalam kondisi yang baik.
Grafik 1.1 Perkembangan Magot Selama 14 Hari
Berdasarkan hasil pengamatan maggot ditempat gelap yang terletak di Kabupaten Banyuasin III, Kab. Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan dengan suhu kisaran 23 - 30 C dengan kelembaban kisaran 75 - 94 %. Pengamatan Magot yang dilakukan terletak di kondisi tempat yang cukup gelap. Yakni, pada bagian bawah oven dapur rumah yang gelap. Pertumbuhan maggot yang terjadi cukup baik. Hal ini dikarenakan, jumlah dan pertumbuhan pada magot dari hari ke hari mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Faktor yang mempengaruhi produksi maggot
pada media yang disediakan yaitu kondisi lingkungan budidaya maggot dan
kandungan nutrien bahan. Dilihat dari kondisi lingkungannya, magot menyukai
kondisi lingkungan yang lembab. Begitu juga dengan kandungan nutrien pada media
tumbuh maggot. Kandungan nutrien yang optimum sangat penting bagi pertumbuhan
biomassa maggot, menurut Duponte 8 (2003), bahan yang cocok bagi pertumbuhan
maggot adalah bahan yang banyak mengandung bahan organik.
Daftar Pustaka :
Azir, Et All.
2017. PRODUKSI
DAN KANDUNGAN NUTRISI MAGGOT (Chrysomya Megacephala) MENGGUNAKAN KOMPOSISI
MEDIA KULTUR BERBEDA. Jurnal Ilmu –
Ilmu Perikanan Dan Budidaya Perairan. Vol.12 (1) : 34 – 40
Fatmasari L.
2017. Tingkat
Densitas Populasi, Bobot, Dan Panjang Maggot (Hermetia Illucens) Pada Media
Yang Berbeda. Pendidikan Biologi.
Fakultas Tarbriyah Dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Hamidah, Siti, 2015, Sayuran dan Buah
Serta Manfaatnya Bagi Kesehatan, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Silmina, Et
All. Efektifitas Berbagai Media Budidaya Terhadap
Pertumbuhan Maggot (Hermetia
Illucens). Bogor
Sucianti R, Faruq H. 2016. Efektivitas
Media Pertumbuhan Maggots Hermetia illucens (Lalat Tentara Hitam) Sebagai
Solusi Pemanfaatan Sampah Organik.. Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas
Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA Jl. Tanah Merdeka Pasar Rebo Kp. Rambutan 13830,
Jakarta Timur. Vol.1 (2) : 8 - 13
Good job brother
ReplyDelete